Tentang pengelolaan kelas,
para ahli pendidikan berbeda-beda dalam mengemukakan definisi.
Definisi-definisi yang berbeda itu bukan dimaksudkan untuk mempersulit
arti dan makna pengelolaan kelas, akan tetapi justru akan menambah kejelasan arti pengelolaan kelas itu sendiri.
Untuk memahami pengertian tentang pengelolaan kelas secara mendalam, maka akan dikemukakan beberapa pendapat dari para ahli diantaranya :
a. Menurut Made Pidarta
Pengelolaan kelas ditinjau dari pengertian lama dan pengertian baru sebagai berikut:
1. Pengertian lama, Pengelolaan kelas adalah mempertahankan ketertiban kelas
2.
Pengertian baru, Pengelolaan kelas adalah proses seleksi dan
menggunakan alat-alat yang tepat terhadap problem dan situasi
pengelolaan kelas. Guru bertugas menciptakan, memperbaiki, dan
memelihara organisasi kelas sehingga individu dapat memanfaaatkan
kemampuannya, bakatnya, dan energinya pada tugas-tugas individual
(Pidarta, tth : 47).
b. Menurut Suharsimi Arikunto
Pengelolaan kelas adalah
suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan belajar
mengajar dengan maksud agar dicapai kondisi yang optimal sehingga dapat
terlaksana kegiatan belajar mengajar seperti yang diharapkan (Arikunto,
1986: 143).
c. Menurut Cece Wijaya dan Tabrani Rusyan
Pengelolaan
kelas adalah usaha yang dilakukan guru untuk menata kehidupan kelas
dimulai dari perencanaan kurikulumnya, penataan prosedur dan sumber
belajarnya, pengaturan lingkungannya untuk memaksimalkan efisiensi,
memantau kemajuan siswa, dan mengantisipasi masalah-masalah yang mungkin
timbul (Wijaya dan Rusyan, 1994: 113).
d. Menurut Muljani A. Nurhadi
Pengelolaan
kelas merupakan upaya mengelola siswa di kelas yang dilakukan untuk
menciptakan dan mempertahankan suasana (kondisi) kelas yang menunjang
program pengajaran dengan jalan menciptakan dan mempertahankan motivasi
siswa untuk selalu terlibat dan berperan serta dalam proses pendidikan
di sekolah (Nurhadi, 1983: 162).
Dari semua uraian di atas dapat
disimpulkan bahwa pengelolaan kelas adalah upaya yang dilakukan guru
dalam mengelola anak didiknya di kelas dengan menciptakan atau
mempertahankan suasana atau kondisi kelas yang mendukung program
pengajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang
Rabu, 11 Januari 2012
Sabtu, 07 Januari 2012
Teori Belajar Edward Chance Tolman
Tolman
(1886-1959) lahir di Newton, Massachusetts. Ia memperoleh gelar Master
of Art (1912) dan doktornya di Universitas Harvard pada bidang
psikologi. Lalu ia mengajar di Universitas Northwestern (1915-1918).
Dari universitas ini ia pergi ke Uneversitas California dan menetap di
sana hingga ia mengundurkan diri karena menolak untuk menandatangani
sumpah setia yang dianggapnya sebagai pelanggaran kebebasan akademik.
Akan tetapi ia kembali lagi ke universitas ini atas permintaan para
professor.
Teori
belajar Tolman dapat dikatakan sebagai camuran antara Teori Gestalt dan
Behaviorisme. Setelah lulus dari Harvard Tolman pergi ke Jerman dan
bekerja dengan Koffka. Keberadaan teori Gestalt terhadap proses
berteorinya mempunyai pengaruh yang sangat signifikan. Sikapnya yang
senang terhadap teori Gestalt tidaklah menghalangi perhatiannya terhadap
behaviorisme. Tolman memperhatikan ada sedikit nilai dalam introspective approach,
padahal ia merasakan psikologi merupakan obyektif yang komplit.
Pemikirannya bertentangan dengan para behavioris yang menyatakan unit
perilaku bisa dipelajari sebagai unsur-unsur yang terpisah. Para
behavioris seperti Pavlov, Guthrie, Hull, Watson, dan Skinner
digambarkan Tolman sebagai "Psychology of Twitchism" karena
mereka melihat segmen-segmen perlilaku yang besar dapat dibagi menjadi
segmen-segmen kecil, seperti reflek-reflek yang selanjutnya dianalisis.
Tolman
memandang dengan menjadikan elemen-elemen kecil, sesungguhnya
behavioris telah membuang artinya secara utuh. Akan tetapi dia juga
yakin bahwa hal seperti itu mungkin juga untuk dijadikan sebagai objek
ketika belajar tentang molar behavior secara sistematis. Oleh karena itu
bisa dikatakan bahwa Tolman seorang behavioris secara metodologi dan
teoris kognitif dalam hal metafisik. Dengan kata lain, ia belajar
behavior untuk menentukan proses kognitif.[3]
C. MOLAR BEHAVIOR[4]
Karateristik utama pemahaman perilaku adalah "purposive" yang
selalu diarahkan ke berbagai tujuan atau maksud. Tolman tidak pernah
berpendapat bahwa perilaku tidak bisa dibagi menjadi unit lebih kecil
untuk kepentingan studi, namun demikian ia merasakan bahwa pola perilaku
utuh mempunyai suatu maksud tertentu yang akan hilang jika dipelajari
dari sudut pandang parsial atau dari elemen-elemen individual.
Bentuk perilaku yang dinamakan Tolman (1932) sebagai molar, misalnya: seekor tikus yang berlari di simpang siur jalan (maze),
seekor kucing yang keluar dari puzzle box, anak-anak yang saling
bercerita tentang pikiran dan perasaan mereka. Yang harus diperhatikan,
bahwa ketika menyebutkan hal di atas maka akan melibatkan seluruh otot,
kelenjar, kegelisahan sensory dan motor nerver. Untuk respon-respon
seperti di atas, bagaimanapun juga cukup mengidentifikasikan sifat-sifat
mereka sendiri.
D. PURPOSIVE BEHAVIORISM
Teori
Tolman dikenal sebagai purposive behaviorism karena mencoba untuk
menjelaskan goal (tujuan) mengarah pada perilaku atau purposive
behavior. (Tolman menggunakan istilah purposive semata-mata untuk
pendiskripsikan). Ia terkenal dengan contoh mencari perilaku sampai
makanan ditemukan. Oleh karena itu, nampak "as if (seolah-olah)"
perilakunya adalah goal-directed atau purposive. Dalam hal ini ada
persamaan antara Guthrie dan Tolman. Menurut Guthrie perilaku tetap
berlaku sepanjang pemeliharaan stimuli disajikan oleh beberapa status
kebutuhan (need). Sedangkan menurut Tolman perilaku "as if" merupakan goal diarahkan sepanjang organisma sedang mencari-cari sesuatu yang ada di lingkungannya.
E. KONSEP TEORITIS UTAMA
Tolman
memperkenalkan penggunaan variable campuran dalam riset psikologis, dan
Hull meminjam gagasan meminjam gagasan itu darinya. Keduanya
menggunakan variable campuran yang serupa dalam penelitiannya. Namun
bagaimanapun juga, Hull lebih banyak mengembangkan dan mengelaborasi
teori belajar dari pada yang dilakukan Tolman.
Asumsi-asumsi umum yang dikemukakan Tolman dalam proses belajar:
Apa arti belajar?
Para
tokoh behavioris seperti, Pavlov, Watson, Guthrie, dan Hull, mengatakan
bahwa asosiasi-asosiasi stimulus respons itu yang dipelajari dan
melibatkan hubungan S-R yang komplek. Atau belajar adalah perubahan
dengan tingkah laku sebagai dari interaksi antara lain stimulus dan
respons. Sedangkan Tolman banyak mengambil petunjuk atau pandangan awal
dari teori-teori Gestald, yang mengatakan bahwa dalam belajar, hal yang
utama adalah proses interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan.
Sebuah organisme yang sampai pada ekplorasi, yang kemudian menemukan
peristiwa tertentu, lalu ditunjukkan pada peristiwa tertentu lainnya,
atau dengan kata lain, lalu ditunjukkan pada peristiwa tertentu lainnya,
atau dengan kata lain, sebuah tanda memimpin tanda memimpin tanda yang
lain. Oleh karena itu, Tolman lebih dikenal sebagai ahli teori S-S.
Pengetahuan bagi Tolman adalah suatu proses berkelanjutan yang tidak
memerlukan motivasi apapun. Dalam hal ini, Tolman sependapat dengan
Guthrie dan bertentangan dengan Pavlov, Skinner, dan Torndike.
Bagaimanapun juga, haruslah ditunjukkan bahwa motivasi adalah penting
bagi teori Tolman. Karena motivasi itu menentukan aspek-aspek lingkungan
mana yang hendak disertai oleh organisme tersebut. Misalnya, organisme
yang lapar akan memakan makanan yang ada di lingkungan itu.
Menurut
Tolman, belajar adalah mengenal tentang situasi. Organisme belajar
tentang sesuatu yang ada di sekitarnya, jika ia berbalik ke kiri, ia
akan menemukan sesuatu. Jika ia berbalik ke kanan, ia temukan juga
sesuatu yang lain. Hal ini terjadi secara berangsur-angsur, sehingga ia
dapat membuat kesimpulan sendiri. Dengan demikian, menurut Tolman,
belajar itu akan sia-sia jika hanya dihafal.
Confirmation versus Reinforcement
Sebagaimana Guthrie, konsep penguatan (reinforcement)
adalah tidak penting bagi Tolman sebagai variable pembelajaran. Akan
tetapi, Tolman mengatakan sebagai konfirmasi, di mana behavioris
menyebutnya Rinforcement. Selama perkembangan sebuah peta
kognitif, harapan atau dugaan-dugaan dimanfaatkan oleh sebuah organisme.
Dugaan adalah sebuah firasat tentang sesuatu dan fungsinya. Di mana
awal sebuah dugaan bersifat sementara yang disebut hipotesis, yang
berasal baik dari pengalaman maupun bukan. Hipotesis yang telah
dikonfirmasikan akan dipakai. Sedangkan hipotesis yang salah akan
dibuang. Yang harus diperhatikan adalah proses penerimaan maupun
penolakan hipotesis merupakan sebuah proses kognitif bukan termasuk
tindakan behavior.
Dalam proses pengambilan keputusan dalam persepsi, Bruner menyatakan ada 4 tahap pengambilan keputusan:
1. Kategorisasi primitive, di mana obyek atau peristiwa yang diamati diisolasi dan ditandai berdasarkan ciri-ciri khusus.
2. Mencari tanda (cue search),
di mana si pengamat secara tepat memeriksa lingkungan untuk mencari
informasi-informasi tambahan untuk memungkinkannya melakukan
kategorisasi yang tepat.
3. Konfirmasi,
terjadi setelah obyek mendapatkan penggolongan sementaranya. Pada tahap
ini si pengamat tidak lagi terbuka untuk sembarang masukan, melainkan
ia hanya menerima tambahan informasi yang akan memperkuat konfirmsi
keputusannya. Masukan-masukan yang tidak releven dihindari.
4. Konfimasi
tuntas, di mana pencarian tanda-tanda diakhiri. Tanda-tanda baru
diabaikan dan tanda-tanda yang tidak konsisten dengan kesimpulan juga
diabaikan.[5]
Vicarious Trial and Error
Tolman
memperhatikan karakteristik tikus dalam kebingungan (jalan simpag
siur). Sehingga ia bisa memanfaatkannya sebagai pendukung untuk
menafsirkan teori belajarnya. Seekor tikus sering berhenti pada suatu
titik tertentu dan memandang sekelilingnya seolah-olah berpikir tentang
berbagai alternatif yang ada. Kegiatan seperti ini (berhenti dan
memandang sekelilingnya) yang disebut Tolman sebagai Vicarious Trial and Error, sehingga organisme itu bisa membuat kesimpulan sendiri dari berbagai kegiatan yang telah dilakukannya.
Learning Versus Performance
Sebagaimana diterangkan, bahwa Hull membedakan antara learning dan performance. Pada akhir teorinya, Hull menyatakan bahwa banyaknya jumlah percobaan (trial)
yang diperbuat merupakan satu-satunya variable belajar. Sedangkan
variabel-variabel lainnya, yang ada dalam sistemnya merupakan variable
capaian (performance). Sehingga performance dapat dimaksudkan sebagai perwujudan belajar ke dalam prilaku. Hal seperti ini penting bagi Hull, tapi juga penting bagi Tolman.
Menurut
Tolman, kita mengetahui banyak hal tentang lingkungan di sekitar kita,
akan tetapi, kita hanya akan melaksanakan informasi atau pengetahuan itu
ketika kita harus melakukannya. Dalam status kebutuhan (need), organisme memanfaatkan apa yang telah dipelajarinya hingga sampai pada real testing yang
bisa menguangi kebutuhan itu. Misalnya, ada dua kran air dalam rumah
kita, dalam jangka waktu yang lama, kita tidak pernah memperhatikan atau
meminumnya hingga suatu saat terasa sangat haus. Secara spontan kita
akan meminumnya salah satu dari keduanya. Dari sini, kita akan
mengetahui bagaimana menemukan air minum itu tanpa harus menunggu hingga
terasa haus.
Beberapa point sejauh ini yang dapat diringkas adalah:
1. Organisme membawa kepada bentuk problem-solving berbagai
hipotesis, yang bisa jadi akan memanfaatkan percobaan untuk memecahkan
masalah ini. Hipotesis ini sebagian besar didasarkan pada pengalaman
terdahulu. Tolman juga percaya bahwa beberapa strategi problem-solving bisa jadi merupakan pembawaan.
2. Hipotesis yang survive, yaitu yang sesuai dengan kenyataan menjadikan maksud atau tujuan tercapai.
3. Ketika
ada berbagai tuntutan maupun alasan yang harus dipenuhi, sebuah
organisme akan memanfaatkan penggunaan informasi yang ada dalam peta
kognitifnya. Hal inilah yang menjadi dasar perbedaan learning dan performance.
Latent Learning
Latent learning adalah belajar yang tidak diwujudkan dalam performance. Dengan kata lain, latent learning
merupakan kemungkinan belajar yang terbengkalai dalam waktu yang amat
panjang sebelum hal tersebut dinyatakan dalam prilaku. Konsep tentang latent learning
sangat penting bagi Tolman, dan dia merasa sukses dalam
mendemonstrasikan eksistensinya. Eksperimen terkenal yang dilakukan oleh
Tolman dan Honzik (1930) melibatkan tiga kelompok tikus, yang mencoba
belajar untuk memecahkan suatu kebingungan (jaringan jalan yang simpang
siur). Kelompok pertama, tidak pernah diperkuat untuk dengan tepat
melintasi jalan yang simpang siur itu. Kelompok kedua, selalu diperkuat (reinforced).
Sedang kelompok ketiga, tidaklah diperkuat sampai hari ke-11 mengadakan
percobaan. Kelompok terakhir inilah yang menarik bagi Tolman. Teorinya
tentang latent learning meramalkan bahwa kelompok ini akan
belajar di simpang siur jalan itu, sama halnya dengan kelompok yang
secara teratur diperkuat. Dan ketika penguatan (reinforcement) diperkenalkan pada hari ke-11, kelompok ini akan melakukan seperti halnya kelompok yang secara terus menerus diperkuat (reinforced).
Baik kita perhatikan gambar yang ada dalam buku, maka akan nampak hal nyata:
Pada F2 jika mulai dari S2. Hal seperti ini merupakan kelompok respon learning. Sedangkan
kelompok lain, selalu diberi makan pada tempat yang sama F2, sehingga
jika kelompok ini mulai dari S1 haus lebih dulu belok ke kiri untuk
diperkuat. Sedangkan jika mulai dari S2, harus lebih dulu memutar ke
kanan. Kelompok inilah yang disebut sebagai place learning.
Reinfocement Expectancy
Menurut Tolman, ketika kita belajar, kita menganalisa "situasi". Term understanding selalu ada hubungannya dengan Tolman sebagaimana para behavioris. Dalam situasi problem-solving, kita
belajar untuk memperoleh cara yang paling paktis. Kita belajar untuk
mengharapkan terjadinya persitiwa tertentu, mengikuti peristiwa yang
lain. Seekor binatang mengharapkan jika ia pergi ke suatu tempat
tertentu, maka ia akan menemukan reinforcer tertentu. Manurut pada ahli teori S-R, bahwa merubah reinforcer dalam teori belajar tidak akan mengganggu prilaku sepanjang kuantitas reinforcement tidak dirubah secara drastis. Sedangkan menurut Tolman, ia memprediksikan, jika reinforcer dirubah, prilaku akan terganggu, karena reinforcement expectancy merupakan bagian dari apa yang diharapkan.
F. SIX KINDS OF LEARNING
Dalam artikelnya (1949), "There is More than One Kind of Learning", Tolman membagi belajar menjadi enam macam.
- Cathexes
Cathexis
(jamak chatexes) mengacu pada kecenderungan belajar untuk berhubungan
dengan obyek tertentu serta drive state tertentu. Misalnya, makanan
tertentu yang tersedia bisa jadi mencukupi rasa lapar seseorang yang
hidup di suatu negeri. Masyarakat yang hidup di suatu negeri, di mana
ikan selalu dimakan akan cenderung untuk dicari guna memenuhi rasa
laparnya. Individu-individu yang sama akan menghindari daging sapi atau
spageti karena bagi mereka, makanan itu tidak dihubungkan dengan
kepuasan rasa lapar. Karena stimuli tertentu itu dihubungkan dengan
kepuasan drive tertentu, sehingga stimuli-stimuli itu akan cenderung
untuk dicari-cari ketika drive itu terulang.
- Equivalence Beliefs
Ketika
sebuah "subgoal" mempunyai pengaruh yang sejenis dengan dirinya, maka
subgoal itu dikatakan mendasari sebuah equivalence belief. Hal seperti
ini hamper sesuai dengan yang disebut oleh para ahli teori S-R sebagai
secondary reinforcement. Tolman (1949) menganggap bahwa jenis belajar
ini termasuk dalam typical "social drives" dari pada physiological
drives. Misalnya, sepanjang dapat dipertunjukkan bahwa dengan need siswa
untuk cinta dan penerimaan yang baik tanpa harus menceritakan tentang
nilai ataupun kualitasnya, kemudian kita ingin mempunyai bukti untuk
equivalence belief.
Di
sini ada sedikit perbedaan antara Tolman dan para ahli teori S-R,
kecuali pada sebuah fakta di mana Tolman menyebut "love reduction"
sebagai reinforcement, dan para teori S-R lebih suka menyebutnya sebagai
penurunan drive seperti rasa haus atau lapar.
- Field Expectancies
Ini
dikembangkan dengan cara yang sesuai menurut perkembangan peta
kognitif. Sebuah organisme belajar tentang obyek dan fungsinya. Ketika
melihat suatu tanda tertentu ia mengharapkan sign yang lain akan
mengikutinya. Pengetahuan umum tentang lingkungan digunakan untuk
menerangkan latent learning dan place learning. Hal seperti ini bukan
merupakan S-R learning melainkan S-S learning atau sign-sign learning.
Di mana ketika seekor binatang melihat suatu sign, maka ia belajar dan
berharap akan diikuti oleh yang lain. Satu-satunya "reinforcement" yang
penting untuk jenis belajar seperti ini adalah konfrmasi sebuah
hipotesis.
- Field-Cognition Modes
Jenis
belajar seperti ini kurang diminati oleh Tolman. Ini adalah sebuah
strategi, cara pendekatan untuk situasi problem-solving. Hal ini
merupakan sebuah tendensi untuk menyusun perceptual field dalam bentuk
tertentu. Tolman mencurigai bahwa kecenderungan ini adalah bawaan,
tetapi bisa dimodifikasi dengan pengalaman. Sesungguhnya hal paling
utama pada strategi yang bekerja dalam pemecahan masalah adalah akan
dicoba pada situasi yang sama pada masa yang akan datang. Seperti itulah
field cognition modes yang efektif, atau problem-solving, yaitu
memindahkan permasalahan-permasalahan yang berhubungan.
- Drive Discrimination
Drive
discrimination hanya mengacu kepada fakta bahwa organisme dapat
menentukan status drive mereka sendiri. Oleh karena itu, mereka mampu
merespon sewajarnya. Contohnya, telah ditemukan bahwa seekor binatang
dapat dilatih untuk masuk searah dalam T-maze, ketika mereka marasa
lapar ataupun haus.
- Motor Patterns
Tolman
menunjukkan bahwa teorinya sebagian besar itu terkait dengan ide
asosiasi bukan terkait dengan ide yang berhubungan dengan prilaku. Motor
patern learning ini merupakan suatu usaha untuk memecahkan sebuah
masalah. Tolman menerima interpretasi Guthrie tentang bagaimana respon
bisa menjadi hubungan dengan stimuli.
G. KONTRIBUSI TOLMAN TERHADAP TEORI BELAJAR
Ketika
kita mencari kontribusi Tolman terhadap teori belajar maka akan kita
dapatkan penemuan tunggalnya tentang latent learning. Kontribusi
terbesar Tolman terletak tak sebanyak dalam penemuan penelitian yang
spesifik dan lebih memerankan tugasnya melawan behavioris Hull. Dimana
Hull dan teman-temannya mampu menolak pendapat psikologi Gestalt dan
Piaget, yang terjadi perbedaan keduanya pada metodologi dan subyek
bersifat eksperimen.
Tolman merupakan penengah bagi para behavioris S-R dengan para psikolog yang memandang belajar sebagai proses kognitif.
Ringkasan Teori Belajar Behavioristik
Teori belajar behavioristik menjelaskan belajar itu adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkret. Perubahan terjadi melalui rangsangan (stimulans) yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respon) berdasarkan hukum-hukum mekanistik. Stimulans tidak lain adalah lingkungan belajar anak, baik yang internal maupun eksternal yang menjadi penyebab belajar. Sedangkan respons adalah akibat atau dampak, berupa reaksi fifik terhadap stimulans. Belajar berarti penguatan ikatan, asosiasi, sifat da kecenderungan perilaku S-R (stimulus-Respon).
Teori Behavioristik:
- Mementingkan faktor lingkungan
- Menekankan pada faktor bagian
- Menekankan
pada tingkah laku yang nampak dengan mempergunakan metode obyektif.
- Sifatnya mekanis
- Mementingkan masa lalu
A. Edward Edward Lee Thorndike (1874-1949): Teori Koneksionisme
Thorndike berprofesi sebagai seorang pendidik dan psikolog yang
berkebangsaan Amerika. Lulus S1 dari Universitas Wesleyen tahun 1895, S2 dari
Harvard tahun 1896 dan meraih gelar doktor di Columbia tahun 1898. Buku-buku
yang ditulisnya antara lain Educational Psychology (1903), Mental and social
Measurements (1904), Animal Intelligence (1911), Ateacher’s Word Book
(1921),Your City (1939), dan Human Nature and The Social Order (1940).
Menurut Thorndike,
belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara
peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R ). Stimulus
adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk
mengaktifkan organisme untuk beraksi atau berbuat sedangkan respon dari adalah
sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang. Dari
eksperimen kucing lapar yang dimasukkan dalam sangkar (puzzle box) diketahui
bahwa supaya tercapai hubungan antara stimulus dan respons, perlu adanya
kemampuan untuk memilih respons yang tepat serta melalui usaha –usaha atau
percobaan-percobaan (trials) dan kegagalan-kegagalan (error) terlebih dahulu. Bentuk
paling dasar dari belajar adalah “trial and error learning atau selecting and
connecting learning” dan berlangsung menurut hukum-hukum tertentu. Oleh karena
itu teori belajar yang dikemukakan oleh Thorndike ini sering disebut dengan
teori belajar koneksionisme atau teori asosiasi. Adanya pandangan-pandangan
Thorndike yang memberi sumbangan yang cukup besar di dunia pendidikan tersebut
maka ia dinobatkan sebagai salah satu tokoh pelopor dalam psikologi pendidikan.
Percobaan Thorndike
yang terkenal dengan binatang coba kucing yang telah dilaparkan dan diletakkan
di dalam sangkar yang tertutup dan pintunya dapat dibuka secara otomatis
apabila kenop yang terletak di dalam sangkar tersebut tersentuh. Percobaan
tersebut menghasilkan teori “trial and error” atau “selecting and conecting”,
yaitu bahwa belajar itu terjadi dengan cara mencoba-coba dan membuat salah. Dalam
melaksanakan coba-coba ini, kucing tersebut cenderung untuk meninggalkan
perbuatan-perbuatan yang tidak mempunyai hasil. Setiap response menimbulkan
stimulus yang baru, selanjutnya stimulus baru ini akan menimbulkan response
lagi, demikian selanjutnya, sehingga dapat digambarkan sebagai berikut:
Dalam percobaan tersebut apabila di luar sangkar diletakkan makanan,
maka kucing berusaha untuk mencapainya dengan cara meloncat-loncat kian kemari.
Dengan tidak tersengaja kucing telah menyentuh kenop, maka terbukalah pintu
sangkar tersebut, dan kucing segera lari ke tempat makan. Percobaan ini
diulangi untuk beberapa kali, dan setelah kurang lebih 10 sampai dengan 12
kali, kucing baru dapat dengan sengaja enyentuh kenop tersebut apabila di luar
diletakkan makanan.
Dari percobaan ini Thorndike menemukan hukum-hukum belajar sebagai
berikut :
- Hukum Kesiapan(law of readiness), yaitu semakin siap suatu organisme memperoleh suatu perubahan tingkah laku, maka pelaksanaan tingkah laku tersebut akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung diperkuat.
Prinsip pertama teori koneksionisme adalah belajar suatu kegiatan
membentuk asosiasi(connection) antara kesan panca indera dengan kecenderungan
bertindak. Misalnya, jika anak merasa senang atau tertarik pada kegiatan
jahit-menjahit, maka ia akan cenderung mengerjakannya. Apabila hal ini
dilaksanakan, ia merasa puas dan belajar menjahit akan menghasilkan prestasi
memuaskanPrinsip pertama teori koneksionisme adalah belajar suatu kegiatan
membentuk asosiasi(connection) antara kesan panca indera dengan kecenderungan
bertindak. Misalnya, jika anak merasa senang atau tertarik pada kegiatan
jahit-menjahit, maka ia akan cenderung mengerjakannya. Apabila hal ini
dilaksanakan, ia merasa puas dan belajar menjahit akan menghasilkan prestasi
memuaskan.
Masalah pertama hukum law of readiness adalah jika kecenderungan
bertindak dan orang melakukannya, maka ia akan merasa puas. Akibatnya, ia tak
akan melakukan tindakan lain.
Masalah kedua, jika ada kecenderungan bertindak, tetapi ia tidak
melakukannya, maka timbullah rasa ketidakpuasan. Akibatnya, ia akan melakukan
tindakan lain untuk mengurangi atau meniadakan ketidakpuasannya.
Masalah ketiganya adalah bila tidak ada kecenderungan bertindak
padahal ia melakukannya, maka timbullah ketidakpuasan. Akibatnya, ia akan
melakukan tindakan lain untuk mengurangi atau meniadakan ketidakpuasannya.
- Hukum Latihan (law of exercise), yaitu semakin sering tingkah laku diulang/ dilatih (digunakan) , maka asosiasi tersebut akan semakin kuat.
Prinsip law of exercise adalah koneksi antara kondisi (yang
merupakan perangsang) dengan tindakan akan menjadi lebih kuat karena
latihan-latihan, tetapi akan melemah bila koneksi antara keduanya tidak
dilanjutkan atau dihentikan. Prinsip menunjukkan bahwa prinsip utama dalam
belajar adalah ulangan. Makin sering diulangi, materi pelajaran akan semakin
dikuasai.
- Hukum akibat(law of effect), yaitu
hubungan stimulus respon cenderung diperkuat bila akibatnya menyenangkan
dan cenderung diperlemah jika
akibatnya tidak memuaskan. Hukum ini menunjuk pada makin kuat atau makin lemahnya koneksi sebagai
hasil perbuatan. Suatu perbuatan yang disertai akibat menyenangkan
cenderung dipertahankan dan lain kali akan diulangi. Sebaliknya, suatu
perbuatan yang diikuti akibat tidak menyenangkan cenderung dihentikan dan
tidak akan diulangi.
Koneksi antara kesan panca indera dengan
kecenderungan bertindak dapat menguat atau melemah, tergantung pada “buah” hasil
perbuatan yang pernah dilakukan. Misalnya, bila anak mengerjakan PR, ia
mendapatkan muka manis gurunya. Namun, jika sebaliknya, ia akan dihukum.
Kecenderungan mengerjakan PR akan membentuk sikapnya.
Thorndike berkeyakinan bahwa prinsip
proses belajar binatang pada dasarnya sama dengan yang berlaku pada manusia,
walaupun hubungan antara situasi dan perbuatan pada binatang tanpa dipeantarai
pengartian. Binatang
melakukan respons-respons langsung dari apa yang diamati dan terjadi secara
mekanis(Suryobroto, 1984).
Selanjutnya Thorndike
menambahkan hukum tambahan sebagai berikut:
a.
Hukum Reaksi Bervariasi
(multiple response).
Hukum ini mengatakan bahwa pada
individu diawali oleh prooses trial dan error yang menunjukkan adanya
bermacam-macam respon sebelum memperoleh respon yang tepat dalam memecahkan
masalah yang dihadapi.
b.
Hukum Sikap ( Set/ Attitude).
Hukum ini menjelaskan bahwa
perilakku belajar seseorang tidak hanya ditentukan oleh hubungan stimulus
dengan respon saja, tetapi juga ditentukan keadaan yang ada dalam diri individu
baik kognitif, emosi , sosial , maupun psikomotornya.
c.
Hukum Aktifitas Berat Sebelah (
Prepotency of Element).
Hukum ini mengatakan bahwa individu dalam proses belajar memberikan
respon pada stimulus tertentu saja sesuai dengan persepsinya terhadap
keseluruhan situasi ( respon selektif).
d.
Hukum Respon by Analogy.
Hukum ini mengatakan bahwa individu dalam melakukan respon pada
situasi yang belum pernah dialami karena individu sesungguhnya dapat
menghubungkan situasi yang belum pernah dialami dengan situasi lama yang pernah
dialami sehingga terjadi transfer atau perpindahan unsur-unsur yang telah
dikenal ke situasi baru. Makin
banyak unsur yang sama maka transfer akan makin mudah.
e.
Hukum perpindahan Asosiasi (
Associative Shifting)
Hukum ini mengatakan bahwa proses peralihan dari situasi yang
dikenal ke situasi yang belum dikenal dilakukan secara bertahap dengan cara
menambahkan sedikit demi sedikit unsur baru dan membuang sedikit demi sedikit
unsur lama.
Selain menambahkan hukum-hukum
baru, dalam perjalanan penyamapaian teorinya thorndike mengemukakan revisi
Hukum Belajar antara lain :
- Hukum latihan ditinggalkan karena ditemukan pengulangan saja tidak cukup untuk memperkuat hubungan stimulus respon, sebaliknya tanpa pengulanganpun hubungan stimulus respon belum tentu diperlemah.
- Hukum akibat direvisi. Dikatakan oleh Thorndike bahwa yang berakibat positif untuk perubahan tingkah laku adalah hadiah, sedangkan hukuman tidak berakibat apa-apa.
- Syarat
utama terjadinya hubungan stimulus respon bukan kedekatan, tetapi adanya
saling sesuai antara stimulus dan respon.
- Akibat
suatu perbuatan dapat menular baik pada bidang lain maupun pada individu
lain.
Teori koneksionisme
menyebutkan pula konsep transfer of training, yaiyu kecakapan yang telah
diperoleh dalam belajar dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang lain. Perkembangan
teorinya berdasarkan pada percobaan terhadap kucing dengan problem box-nya.
B.
Ivan Petrovich Pavlov
(1849-1936).
Ivan Petrovich Pavlov lahir 14 September 1849 di Ryazan Rusia yaitu
desa tempat ayahnya Peter Dmitrievich Pavlov menjadi seorang pendeta. Ia
dididik di sekolah gereja dan melanjutkan ke Seminari Teologi. Pavlov lulus
sebagai sarjan kedokteran dengan bidang dasar fisiologi. Pada tahun 1884 ia
menjadi direktur departemen fisiologi pada institute of Experimental Medicine
dan memulai penelitian mengenai fisiologi pencernaan. Ivan Pavlov meraih
penghargaan nobel pada bidang Physiology or Medicine tahun 1904. Karyanya
mengenai pengkondisian sangat mempengaruhi psikology behavioristik di Amerika. Karya
tulisnya adalah Work of Digestive Glands(1902) dan Conditioned Reflexes(1927).
Classic
conditioning ( pengkondisian atau persyaratan klasik) adalah proses yang
ditemukan Pavlov melalui percobaanny terhadap anjing, dimana perangsang asli
dan netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga
memunculkan reaksi yang diinginkan.
Eksperimen-eksperimen
yang dilakukan Pavlov dan ahli lain tampaknya sangat terpengaruh pandangan
behaviorisme, dimana gejala-gejala kejiwaan seseorang dilihat dari perilakunya.
Hal ini sesuai dengan pendapat Bakker bahwa yang paling sentral dalam hidup
manusia bukan hanya pikiran, peranan maupun bicara, melainkan tingkah lakunya. Pikiran mengenai tugas atau rencana baru
akan mendapatkan arti yang benar jika ia berbuat sesuatu (Bakker, 1985).
Bertitik
tolak dari asumsinya bahwa dengan menggunakan rangsangan-rangsangan tertentu,
perilaku manusia dapat berubah sesuai dengan apa yang didinkan. Kemudian Pavlov
mengadakan eksperimen dengan menggunakan binatang (anjing) karena ia menganggap
binatang memiliki kesamaan dengan manusia. Namun demikian, dengan segala
kelebihannya, secara hakiki manusia berbeda dengan binatang.
Ia mengadakan percobaan dengan cara
mengadakan operasi leher pada seekor anjing. Sehingga kelihatan kelenjar air
liurnya dari luar. Apabila diperlihatkan sesuatu makanan, maka akan keluarlah
air liur anjing tersebut. Kin sebelum makanan diperlihatkan, maka yang
diperlihatkan adalah sinar merah terlebih dahulu, baru makanan. Dengan
sendirinya air liurpun akan keluar pula. Apabila perbuatan yang demikian
dilakukan berulang-ulang, maka pada suatu ketika dengan hanya memperlihatkan
sinar merah saja tanpa makanan maka air liurpun akan keluar pula.
Makanan
adalah rangsangan wajar, sedang merah adalah rangsangan buatan. Ternyata kalau
perbuatan yang demikian dilakukan berulang-ulang, rangsangan buatan ini akan
menimbulkan syarat(kondisi) untuk timbulnys air liur pada anjing tersebut. Peristiwa
ini disebut: Reflek Bersyarat atau Conditioned Respons.
Pavlov
berpendapat, bahwa kelenjar-kelenjar yang lain pun dapat dilatih. Bectrev murid
Pavlov menggunakan prinsip-prinsip tersebut dilakukan pada manusia, yang
ternyata diketemukan banyak reflek bersyarat yang timbul tidak disadari manusia.
Dari eksperimen Pavlov setelah
pengkondisian atau pembiasaan dpat diketahui bahwa daging yang menjadi stimulus
alami dapat digantikan oleh bunyi lonceng sebagai stimulus yang dikondisikan.
Ketika lonceng dibunyikan ternyata air liur anjing keluar sebagai respon yang
dikondisikan.
Apakah
situasi ini bisa diterapkan pada manusia? Ternyata dalam kehidupan sehar-jhari
ada situasi yang sama seperti pada anjing. Sebagai contoh, suara lagu dari
penjual es krim Walls yang berkeliling dari rumah ke rumah. Awalnya mungkin
suara itu asing, tetapi setelah si pejual es krim sering lewat, maka nada lagu
tersebut bisa menerbitkan air liur apalagi pada siang hari yang panas.
Bayangkan, bila tidak ada lagu trsebut betapa lelahnya si penjual
berteriak-teriak menjajakan dagangannya. Contoh lai adalah bunyi bel di kelas
untuk penanda waktu atau tombol antrian di bank. Tanpa disadari, terjadi proses
menandai sesuatu yaitu membedakan bunyi-bunyian dari pedagang makanan(rujak,
es, nasi goreng, siomay) yang sering lewat di rumah, bel masuk kelas-istirahat
atau usai sekolah dan antri di bank tanpa harus berdiri lama.
Dari contoh tersebut dapat diketahui bahwa
dengan menerapkan strategi Pavlov ternyata individu dapat dikendalikan melalui
cara mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan
pengulangan respon yang diinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa ia
dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya.
C. Burrhus Frederic Skinner (1904-1990).
Seperti halnya kelompok penganut psikologi
modern, Skinner mengadakan pendekatan behavioristik untuk menerangkan tingkah
laku. Pada tahun 1938, Skinner menerbitkan bukunya yang berjudul The Behavior
of Organism. Dalam perkembangan psikologi belajar, ia mengemukakan teori
operant conditioning. Buku itu menjadi inspirasi diadakannya konferensi tahunan
yang dimulai tahun 1946 dalam masalah “The Experimental an Analysis of
Behavior”. Hasil konferensi dimuat dalam
jurnal berjudul Journal of the Experimental Behaviors yang disponsori
oleh Asosiasi Psikologi di Amerika (Sahakian,1970)
B.F. Skinner berkebangsaan Amerika dikenal
sebagai tokoh behavioris dengan pendekatan model instruksi langsung dan
meyakini bahwa perilaku dikontrol melalui proses operant conditioning.
Di mana seorang dapat mengontrol tingkah laku organisme melalui pemberian
reinforcement yang bijaksana dalam lingkungan relatif besar. Dalam beberapa
hal, pelaksanaannya jauh lebih fleksibel daripada conditioning klasik.
Gaya mengajar guru dilakukan dengan
beberapa pengantar dari guru secara searah dan dikontrol guru melalui
pengulangan dan latihan.
Menajemen Kelas menurut Skinner adalah
berupa usaha untuk memodifikasi perilaku antara lain dengan proses penguatan
yaitu memberi penghargaan pada perilaku yang diinginkan dan tidak memberi
imbalan apapun pada perilaku yanag tidak tepat. Operant Conditioning adalah
suatu proses perilaku operant ( penguatan positif atau negatif) yang dapat
mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali atau menghilang sesuai
dengan keinginan.
Skinner membuat eksperimen sebagai berikut
:
Dalam laboratorium Skinner memasukkan
tikus yang telah dilaparkan dalam kotak yang disebut “skinner box”, yang sudah
dilengkapi dengan berbagai peralatan yaitu tombol, alat pemberi makanan,
penampung makanan, lampu yangdapat diatur nyalanya, dan lantai yanga dapat
dialir listrik. Karena dorongan lapar tikus beruasah keluar untuk mencari
makanan. Selam tikus bergerak kesana kemari untuk keluar dari box, tidak
sengaja ia menekan tombol, makanan keluar. Secara terjadwal diberikan makanan
secara bertahap sesuai peningkatan perilaku yang ditunjukkan si tikus, proses
ini disebut shapping.
Berdasarkan berbagai percobaannya pada
tikus dan burung merpati Skinner mengatakan bahwa unsur terpenting dalam
belajar adalah penguatan. Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui
ikatan stimulus respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. Skinner membagi
penguatan ini menjadi dua yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. Bentuk
bentuk penguatan positif berupa hadiah, perilaku, atau penghargaan. Bentuk
bentuk penguatan negatif antara lain menunda atau tidak memberi penghargaan,
memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang.
Beberapa prinsip Skinner antara lain :
- Hasil
belajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan,
jika bebar diberi penguat.
- Proses
belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.
- Materi
pelajaran, digunakan sistem modul.
- Dalam
proses pembelajaran, tidak digunkan hukuman. Untuk itu lingkungan perlu
diubah, untukmenghindari adanya hukuman.
- dalam
proses pembelajaran, lebih dipentingkan aktifitas sendiri.
- Tingkah
laku yang diinginkan pendidik, diberi hadiah, dan sebaiknya hadiah
diberikan dengan digunakannya jadwal variabel Rasio rein forcer.
- Dalam pembelajaran digunakan shaping.
D. Robert Gagne ( 1916-2002).
Gagne adalah seorang psikolog pendidikan berkebangsaan amerika yang
terkenal dengan penemuannya berupa condition of learning. Gagne pelopor dalam instruksi pembelajaran yang
dipraktekkannya dalam training pilot AU Amerika. Ia kemudian mengembangkan
konsep terpakai dari teori instruksionalnya untuk mendisain pelatihan berbasis
komputer dan belajar berbasis multi media. Teori Gagne banyak dipakai untuk
mendisain software instruksional.
Gagne disebut sebagai Modern
Neobehaviouris mendorong guru untuk merencanakan instruksioanal pembelajaran
agar suasana dan gaya belajar dapat dimodifikasi. Ketrampilan paling rendah
menjadi dasar bagi pembentukan kemampuan yang lebih tinggi dalam hierarki
ketrampilan intelektual. Guru harus mengetahui kemampuan dasar yang harus
disiapkan. Belajar dimulai dari hal yang paling sederhana dilanjutnkanpada
yanglebih kompleks ( belajar SR, rangkaian SR, asosiasi verbal, diskriminasi,
dan belajar konsep) sampai pada tipe belajar yang lebih tinggi(belajar aturan
danpemecahan masalah). Prakteknya gaya
belajar tersebut tetap mengacu pada asosiasi stimulus respon.
E. Albert Bandura (1925-masih hidup).
Bandura lahir pada tanggal 4 Desember 1925 di Mondare alberta berkebangsaan Kanada. Ia seorang
psikolog yang terkenal dengan teori belajar sosial atau kognitif sosial serta
efikasi diri. Eksperimennya yang sangat terkenal adalah eksperimen Bobo Doll
yang menunjukkan anak meniru secara persis perilaku agresif dari orang dewasa
disekitarnya.
Faktor-faktor yang berproses dalam belajar
observasi adalah:
1.
Perhatian,
mencakup peristiwa peniruan dan karakteristik pengamat.
2.
Penyimpanan
atau proses mengingat, mencakup kode pengkodean simbolik.
3.
Reprodukdi
motorik, mencakup kemampuan fisik, kemampuan meniru, keakuratan umpan balik.
4.
Motivasi, mencakup dorongan dari luar dan penghargaan terhadap diri
sendiri.
Selain itu juga harus
diperhatikan bahwa faktor model atau teladan mempunyai prinsip prinsip sebgai
berikut:
- Tingkat
tertinggi belajar dari pengamatan diperoleh dengan cara mengorganisasikan
sejak awal dan mengulangi perilaku secara simbolik kemudian melakukannya.
- Individu
lebih menyukai perilaku yang ditiru jika sesuai dengan nilai yang
dimilikinya.
- Individu
akan menyukai perilaku yang ditiru jika model atau panutan tersebut
disukai dan dihargai dan perilakunya mempunyai nilai yang bermanfaat.
Karena melibatkan atensi, ingatan dan motifasi,
teori Bandura dilihat dalam kerangka Teori Behaviour Kognitif. Teori belajar
sosial membantu memahami terjadinya perilaku agresi dan penyimpangan psikologi dan bagaimana
memodifikasi perilaku.
Teori Bandura menjadi dasar dari perilaku
pemodelan yang digunakan dalam berbagai pendidikan secara massal.
Aplikasi Teori Behavioristik
terhadap Pembelajaran Siswa
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menerapkan
teori behavioristik adalah ciri-ciri kuat yang mendasarinya yaitu:
a.
Mementingkan pengaruh
lingkungan
b.
Mementingkan bagian-bagian
c.
Mementingkan peranan reaksi
d.
Mengutamakan mekanisme
terbentuknya hasil belajar melalui prosedur stimulus respon
e.
Mementingkan
peranan kemampuan yang sudah terbentuk sebelumnya
f.
Mementingkan
pembentukan kebiasaan melalui latihan dan pengulangan
g.
Hasil
belajar yang dicapai adalah munculnya perilaku yang diinginkan.
Sebagai konsekuensi teori ini, para guru yang
menggunakan paradigma behaviorisme akan menyusun bahan pelajaran dalam bentuk
yang sudah siap, sehingga tujuan pembelajaran yang harus dikuasai siswa
disampaikan secara utuh oleh guru. Guru tidak banyak memberi ceramah, tetapi
instruksi singkat yng diikuti contoh-contoh baik dilakukan sendiri maupun
melalui simulasi. Bahan pelajaran disusun secara hierarki dari yang sederhana
samapi pada yang kompleks.
Tujuan pembelajaran dibagi dalam bagian kecil yang
ditandai dengan pencapaian suatu ketrampilan tertentu. Pembelajaran
berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati. Kesalahan harus segera
diperbaiki. Pengulangan dan latihan digunakan supaya perilaku yang diinginkan
dapat menjadi kebiasaan. Hasil yang diharapkan dari penerapan teori
behavioristik ini adalah tebentuknya suatu perilaku yang diinginkan. Perilaku
yang diinginkan mendapat penguatan positif dan perilaku yang kurang sesuai
mendapat penghargaan negatif. Evaluasi atau penilaian didasari atas perilaku
yang tampak.
Kritik terhadap behavioristik adalah pembelajaran
siswa yang berpusat pada guru, bersifaat mekanistik, dan hanya berorientasi
pada hasil yang dapat diamati dan diukur. Kritik ini sangat tidak berdasar
karena penggunaan teori behavioristik mempunyai persyartan tertentu sesuai
dengan ciri yang dimunculkannya. Tidak setiap mata pelajaran bisa memakai
metode ini, sehingga kejelian dan kepekaan guru pada situasi dan kondisi
belajar sangat penting untuk menerapkan kondisi behavioristik.
Metode behavioristik ini sangat cocok untuk
perolehan kemampaun yang membuthkan praktek dan pembiasaan yang mengandung
unsur-unsur seperti :
Kecepatan, spontanitas, kelenturan, reflek, daya
tahan dan sebagainya, contohnya: percakapan bahasa asing, mengetik, menari,
menggunakan komputer, berenang, olahraga dan sebagainya. Teori ini juga cocok
diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang
dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan
bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau pujian.
Penerapan teori behaviroristik yang salah dalam
suatu situasi pembelajaran juga mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran
yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai central, bersikap
otoriter, komunikasi berlangsung satu arah, guru melatih dan menentukan apa
yang harus dipelajari murid. Murid dipandang pasif , perlu motivasi dari luar,
dan sangat dipengaruhi oleh penguatan yang diberikan guru. Murid hanya
mendengarkan denga tertib penjelasan guru dan menghafalkan apa yang didengar
dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif. Penggunaan hukuman yang sangat
dihindari oelh para tokoh behavioristik justru dianggap metode yang paling
efektif untuk menertibkan siswa.
TEORI BELAJAR CLARK L HULL
A.Riwayat Clark L Hull
Leonard Clark Hull dilahirkan di Akron, New
York pada 24 Mei 1884. Ia dibesarkan di Michigan, dan mendiami satu
kelas selama bertahun-tahun. Hull mempunyai masalah kesehatan di mata.
Orang tuanya miskin, dan Hull pernah menderita polio. Pendidikan yang
ditempuhnya beberapa kali terputus karena sakit dan masalah keuangan.
Tetapi setelah lulus, dia memenuhi syarat sebagai guru dan menghabiskan
banyak waktunya untuk mengajar di sekolah negeri yang kecil di Sickle,
Michigan. Setelah memperoleh bachelor dan gelar master di Universitas
Michigan, ia beralih ke psikologi, dan menerima Ph.D. psikologi di tahun
1918 dari University of Wisconsin, dimana dia tinggal selama sepuluh
tahun sebagai instruktur. Penelitian doktornya pada "Aspek kuantitatif
dari Evolution of Concepts" telah diterbitkan dalam Psychological
Monographs. Selama waktu itu, Hull mempelajari efek dari merokok
tembakau pada kinerja, yang kemudian dibahasnya pada beberapa literatur
yang disertai dengan pengujian, selanjutnya mulai penelitian tentang
saran dan hipnose. Pada 1929, Clark Hull melanjutkan penelitiannya di
Yale University dan mulai serius terhadap perkembangan teori
perilakunya. Sampai akhir karirnya, Hull dan mahasiswa didominasi
behavioristik psikologi. Clark Hull meninggal pada 10 Mei 1952, di New
Haven, Connecticut.
Hull adalah seorang tokoh teori belajar
behavioristik. Hull tertarik dengan teori belajar yang membuat dia
menghasilkan beberapa buku yang berhubungan dengan teori belajar, antara
lain Mathematico_Deductive Theory of Role Learning yang ditulis
bersama-sama dengan Hovland, Perkins, dan Fitch. Hull juga menulis
Principles of Behavior dan Essentials of Behavior. Buku terakhir yang
ditulisnya adalah A Behavior System. Selain menulis buku Hull juga
menulis sejumlah artikel bagi majalah-majalah profesional.
B.Konsep dan Teori
Clark
L. Hull mendasarkan teori belajarnya pada tingkah laku yang diselidiki
dengan hubungan perkuatan S-R. Metode yang digunakan merupakan metode
matematika, deduktif, dan dapat dites atau diuji. Teori dari Hull
sebenarnya tidak jauh beda dengan teori belajar lainnya. Beberapa
persamaan teori belajar Hull dengan teori belajar sebelumnya adalah
sebagai berikut:
1.Berdasarkan asosiasi S-R
2.Berdasarkan cara melangsungkan hidup.
3.Berdasarkan kebutuhan biologis dan pemenuhannya.
4.Orientasinya kepada teori Pavlov.
Hull juga mengembangkan beberapa definisi, antara lain:
1.Kebutuhan (Need)
Kebutuhan
merupakan keadaan organisme yang menyimpang dari kondisi biologis
optimum pada umumnya yang digunakan untuk melangsungkan hidupnya. Jika
kebutuhan tersebut timbul maka organisme akan bertindak untuk memenuhi
kebutuhannya, hal tersebut dinamakan mereduksi kebutuhan dan teori
belajarnya disebut teori reduksi kebutuhan atau need reduction theory.
2.Dorongan (Drive)
Kondisi
kekosongan ganda organisme sehingga mendorong untuk melakukan sesuatu.
Istilah lain dari dorongan adalah motiv. Adakalanya seseorang merasa
ingin melakukan sesuatu namun orang tersebut tidak memiliki dorongan
untuk melakukannya.
3.Perkuatan (Reinforcement)
Sesuatu yang dapat
memperkuat hubungan S-R, dan respon terhadap stimulus tersebut dapat
mengurangi ketegangan kebutuhan. Perkuatan biasanya berupa hadiah.
Kebutuhan
yang timbul akan menyebabkan terbentuknya suatu perilaku yang akan
mereduksi kebutuhan secara berangsur-angsur yang dapat dipelajari
responnya. Stimulus yang dapat menimbulkan respon adalah stimulus yang
mengenai saraf sensoris atau reseptor kemudian menimbulkan impuls yang
masuk afferent, yaitu saraf gerak dan dapat mengaktifkan otot-otot
maskuler.
S dengan huruf besar merupakan stimulus dan obyeknya. S
dengan huruf kecil merupakan stimulus dalam organisme, stimulus yang
sudah berupa impuls. Impuls merupakan perangsang atau stimulus yang
sudah ada dan bekerja dalam saraf. Dalam teori kali ini yang akan kita
pakai s dengan huruf besar.
Hull membedakan tendensi untuk timbulnya R
dan r. R untuk respon yang nampak, faktual, dan r adalah predisposisi
respon yang masih dalam aktivitas saraf. r merupakan respon yang masih
ada didalam organisme, jadi tidak nampak, tapi mempengaruhi tingkah
laku. Hull mengganti S-R menjadi SHR, dimana H merupakan habit.
Hull
membedakan antara learning dengan performance. Tindakan dipengaruhi
oleh banyak hal, tetapi belajar hanya dipengaruhi oleh faktor jumlah
waktu, respon khusus terjadi karena kontinu dengan perkuatan. Menurut
Hull tingkah laku bersumber pada kebutuhan yang merupakan tuntutan
hidup.
C.Postulat yang Diajukan Oleh Hull
Hull mengajukan enam belas postulat dalam cakupan enam hal yakni sebagia berikut:
1.Tanda-tanda luar yang mendorong atau membimbing tingkah laku dan representasi neuralnya atau saraf.
Postulat 1: Impuls saraf afferent dan bekas lanjutannya.
Jika
suatu perangsang mengenai reseptor, maka timbullah impuls saraf
afferent dengan cepat mencapai puncak intensitasnya dan kemudian
berkurang secara berangsur-angsur. Sesaat saraf afferent berisi impuls
dan diteruskan kepada saraf sentral dala beberapa detik dan seterusnya
timbul respon. S-R diubah menjadi S-s-R atau S-s-r-R. Simbol s adalah
impuls atau stimulus trace dalam saraf sensoris, dan simbol r adalah
impuls respon yang masih dalam saraf fferent.
Postulat 2: Interaksi saraf afferent
Impuls
dalam suatu saraf afferent dapat diteruskan ke satu atau lebih saraf
afferent lainnya. R timbul tidak hanya karena satu stimulus, tetapi
lebih dari satu S yang lalu terjadi kombinasi berbagai stimulus.
Rumusnya akan berubah menjadi S-r-R.
2.Respon terhadap kebutuhan, hadiah dan kekuatan kebiasaan.
Postulat 3: Respon-respon bawaan terhadap kebutuhan (tingkah laku yang tidak dipelajari)
Sejak
lahir organisme mempunyai hierarki respon penentu kebutuhannya yang
timbul karena ada rangsangan-rangsangandan dorongan. Respon terhadap
kebutuhan tertentu bukan merupakan respon pilihan secara random, tetapi
respon yang memang ditentukan oleh kebutuhannya, misalnya mata kena debu
maka mata berkedip dan keluar air mata.
Postulat 4: Hadiah dan kekuatan kebiasaan; kontiguitas dan Reduksi Dorongan sebagai kondisi-kondisi untuk belajar.
Kekuatan
kebiasaan akan bertambah jika kegiatan-kegiatan reseptor dan efektor
terjadi dalam persamaan waktu yang menyebabkan hubungan kontiguitif
dengan hadiah pertama dan hadiah kedua. Simbol kekuatan kebiasaan adalah
sHs.
3.Stimulus pengganti (ekuaivalen)
Postulat 5: Generalisasi (penyamarataan)
Kekuatan
kebiasaan yang efektif timbul karena stimulus lain daripada stimulus
pertama yang menjadi persyaratan bergantung kepada penindakan stimulus
kedua dari yang pertama dalam kesatuan yang terus menerus dari ambang
perbedaan, dengan kata lain yang ingin dibentuk merupakan hasil
rata-rata persyaratan stimulus berikutnya.
4.Dorongan-dorongan sebagai akitivator respon.
Postulat 6: Stimulus dorongan
Hubungan dengan tiap-tiap dorongan adalah stimulus dorongan karakteristik yang intensitasnya meningkat dengan kekuatan dorongan.
Postulat 7: Potensi reaksi yang ditimbulkan oleh dorongan .
Kekuatan kebiasaan disintesiskan kedalam potensi reaksi dengan dorongan-dorongan primer yang timbul pada saat tertentu.
5.Faktor-faktor yang melawan respon-respon
Postulat 8: Pengekangan reaksi
Timbulnya
suatu reaksi menyebabkan pengekangan reaksi yang lain. Suatu kejemuan
untuk mengulangi respon. Pengekangan reaksi adalah penghamburan waktu
yang spontan.
Postulat 9: Pengekangan yang dikondisikan (diisyaratkan)
Stimuli yang dihubungkan dengan penghentian respon menjadi pengekangan yang dikondisikan.
Postulat 10: Osilasi pengekangan
Potensial pengekangan dihubungkan dengan potensial reaksi yang bergoyang terus menerus pada waktu itu.
6.Bangkitnya respon.
Postulat 11: Reaksi ambang perangsang
Potensi reaksi efektif yang momentum harus melampaui reaksi ambang perangsang sebelum stimulus membangkitkan reaksi.
Postulat 12: Kemungkinan reaksi diatas ambang perangsang.
Kemungkinan respon adalah fungsi normal dari potensi reaksi efektif melampaui reaksi ambang perangsang.
Postulat 13: Latensi (keadaan diam atau berhenti)
Makin potensi reaksi efektif melampaui reaksi ambang perangsang makin pendek latensi respon, artinya respon makin cepat timbul.
Postulat 14: Hambatan berhenti (ekstingsi)
Makin besar potensi reaksi efektif, makin besar respon yang timbul tanpa perkuatan, sebelum berhenti atau ekstingsi.
Postulat 15: Amplitudo respon (besarnya respon)
Besarnya dorongan dilantari atau disebabkan oleh peningkatan kekuatan potensi efektif reaksi dalam sistem saraf otonom.
Postulat 16: Respon-respon yang bertentangan
Jika
potensi-potensi reaksi kepada dua atau lebih respon-respon yang
bertentangan terjadi dalam organisme pada waktu yang sama, maka hanya
reaksi yang mempunyai potensi reaksi yang lebih besar akan terjadi
responnya.
Hull mengajukan postulat-postulat tersebut dengan maksud
ingin mempelajari terbentuknya tingkah laku secara sistematis dan
matematis. Dari enam belas postulat yang menjadi inti adalah postulat
nomor empat, yakni mengenai hadiah dan kekuatan kebiasaan. Jika suatu
kegiatan efektor (r - R) dan kegiatan reseptor (S-s) terjadi secara
kontigu waktu dan hal ini secara tepat berhubungan dengan pengurangan
kebutuhan (G) atau dengan suatu stimulus yang telah secara tetap
berhubungan dengan kebutuhan, hasilnya akan tetap meningkatkan kepada
suatu kecenderungan bagi impuls afferent untuk menimbulkan reaksi.
Peningkatan
dari hadiah yang berturut-turut memuncak terbentuknya kombinasi
kekuatan kebiasaan yang bergantung kepada peningkatan hadiah. Jika
ditarik esensi teori belajar pada analisis Hull adalah operasi dasar
hadiah, pengaruh ulangan, dan gradiasi hadiah. Untuk merumuskan kembali
apa yang dimaksud di atas adalah sebagai berikut:
·Bahwa belajar
bergantung kepada kontiguitas S dan R yang berhubungan dengan hadiah
dalam arti pereduksi kebutuhan. Hal ini mirip dengan hukum efek dari
Thorndike.
·Bahwa belajar digambarkan sebagai pertumbuhan fungsi
sederhana, adalah berdasarkan asumsi bahwa peningkatan kekuatan
kebiasaan dengan setiap hadiah adalah bagian tetap dari peningkatan sisa
yang dipelajari. Sebab makin kecil yang harus dikuasai pada awal
belajar dan makin kecil pada akhir belajar.
·Bahwa batas atas M asosiasi antara S dan R bergantung kepada besarnya hadiah dan hadiah yang tertunda.
Hull mengemukakan ada tiga fungsi yang berbeda mengenai dorongan:
·Tanpa
adanya suatu dorongan tidak akan ada perkuatan primer, sebab perkuatan
primer akan menyebabkan penurunan cepat dari dorongan.
·Tanpa adanya
dorongan tidak akan timbul respon, sebab dorongan akan mengaktivir
kebiasaan dalam potensi reaksi. Hull berasumsi bahwa dorongan akan
melipatgandakan kekuatan kebiasaan.
·Tanpa stimulus dorongan yang
jelas, tidak akan terjadi regulasi kebiasaan dari kebutuhan pada
organisme, maka tidak ada cara untuk mempelajari.
D.Beberapa Hal Mengenai Teori Belajar Hull.
Dasar
dari teori belajar Hull adalah teori belajar behavioristik. Sebelum
kita memahami lebih jauh mengenai teori belajar Hull ada baiknya kita
juga mengetahui sedikit penjelasan mengenai teori belajar behavioristik.
Menurut teori behavioristik belajar adalah perubahan tingkah laku
sebagai hasil dari pengalaman (Gage, Berliner, 1984: 252). Belajar
merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin,
2000:143). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat
menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang
penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon.
Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah
faktor penguatan (reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positive
reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu pula bila respon
dikurangi atau dihilangkan (negative reinforcement) maka respon juga
semakin kuat.
Clark Hull menggunakan variabel hubungan antara
stimulus dan respon untuk menjelaskan pengertian belajar. Namun Hull
juga terpengaruh oleh teori evolusi Charles Darwin. Bagi Hull semua
fungsi tingkah laku bermanfaat, terutama untuk menjaga agar organisme
tetap bertahan hidup. Oleh sebab itu Hull mengatakan kebutuhan biologis
(drive) dan pemuasan kebutuhan biologis (drive reduction) adalah penting
dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga
stimulus (stimulus dorongan) dalam belajarpun hampir selalu dikaitkan
dengan kebutuhan biologis, walaupun respon yang akan muncul mungkin
dapat berwujud macam-macam. Penguatan tingkah laku juga masuk dalam
teori ini, tetapi juga dikaitkan dengan kondisi biologis (Bell, Gredler,
1991). Prinsip-prinsip utama teori dari Hull sendiri adalah :
1.Reinforcement
adalah faktor penting dalam belajar yang harus ada. Namun fungsi
reinforcement bagi Hull lebih sebagai drive reduction daripada satisfied
factor.
2.Dalam mempelajari hubungan S-R yang diperlu dikaji adalah
peranan dari intervening variable atau yang juga dikenal sebagai unsure
O (organisme). Faktor O adalah kondisi internal dan sesuatu yang
disimpulkan (inferred), efeknya dapat dilihat pada faktor R yang berupa
output. Karena pandangan ini Hull dikritik karena bukan behaviorisme
sejati.
3.Proses belajar baru terjadi setelah keseimbangan biologis
terjadi. Di sini tampak pengaruh teori Darwin yang mementingkan adaptasi
biologis organisme.
C.Hypothetico-deductive theory
Teori
belajar ini dikembangkan Hull dengan menggunakan metode deduktif. Hull
percaya bahwa pengembangan ilmu psikologi harus didasarkan pada teori
dan tidak semata-mata berdasarkan fenomena individual atau secara
induktif. Teori ini terdiri dari beberapa postulat yang menjelaskan
pemikirannya tentang aktivitas otak, reinforcement, habit, reaksi
potensial, dan lain sebagainya (Lundin, 1991, pp.193-195).
Sumbangan
utama Hull adalah pada ketajaman teorinya yang detil, ditunjang dengan
hasil-hasil eksperimen yang cermat dan ekstensif. Akibatnya ide Hull
banyak dirujuk oleh para ahli behavioristik lainnya dan dikembangkan.
Namun walaupun demikian Hull juga mendapatkan banyak kritikan yang
diberikan padanya, diantaranya sebagai berikut:
1.Teorinya dianggap
terlalu kompleks dan sulit dimengerti. Dalam setiap penelitiannya Hull
selalu mengembangkan sistem yang rumit dan sangat bergantung kepada
matematika elaborasi.
2.Idenya tentang proses internal dianggap abstrak dan sulit dibuktikan melalui eksperimen empiris
3.Partikularistic, usaha untuk menggeneralisasi hasil eksperimen secara berlebihan.
Pada
dasarnya, teori belajar Hull berpusat pada perlunya memperkuat suatu
pengetahuan yang sudah ada. Perilaku individu yang dilihat dalam konteks
homeostatic model selalu mencari keseimbangan dari "drive memaksa."
Inti tingkat analisis psikologis adalah gagasan mengenai "variabel
intervensi," yang dijelaskan sebagai "unobservable perilaku." Dengan
demikian, dari perspektif yang murni perilaku Clark Hull dikembangkan
John B. Watson 's yaitu rangsangan-respon (S-R) ke
stimulus-organisme-respons (S-O -R), atau variabel campuran. Dari teori
Clark Hull yang sistematis, dihasilkan banyak sekali penelitian.
Langganan:
Postingan (Atom)